Pembangunan Untuk Siapa?
Di tahun ini indonesia setidaknya mengalami dua masalah
yakni melawan virus corona dan juga memasuki masa resesi ekonomi, melihat
fenomena resesi ini mengingatkan kita pada Rezim kediktatoran Orde Baru, yang
selama 32 tampak kokoh, seketika runtuh hanya dalam enam bulan sejak krisis
ekonomi menghantam Asia pada pertengahan 1997.
Timbul pertanyaan apakah kita akan kembali merasakan rezim
orde baru yang berideologi “pembangunanisme?” mari kita lihat.
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka pemerintah
Indonesia telah melakukan sejumlah upaya dalam rangka mendorong investasi untuk
beragam sektor terkait infrastruktur. Perbaikan dalam regulasi, fiskal, dan
kelembagaan telah dilakukan guna mendorong pencapaian milestones proyek
prioritas, dalam visinya : kerja,kerja,kerja corona bukan penghalang bagi
pemerintah untuk mengimplementasikan pembangunan infrastruktur, ada 89 proyek
usulan strategis nasional (PSN) yang menelan biaya Rp.1422 triliun dari menteri
koordinator perekonomian, jokowi meminta agar proyek baru daya ungkit besar
terhadap pemulihan ekonomi pasca pandemi. konsekuensinya, pembangunan akan
terus berjalan meski pandemi.
Ruang lingkup proyek baru yang telah direstui oleh Jokowi
mencakup Pulau Jawa ada 25 proyek berbiaya Rp462 triliun; Pulau Kalimantan, 17
proyek berbiaya Rp144 T; Pulau Bali dan Nusa Tenggara 12 proyek senilai Rp28 T;
skala nasional 11 proyek Rp351 T; Sulawesi ada 8 proyek Rp208 T; Sumatera 7
proyek Rp11 T; Maluku-Papua Rp11 T, Untuk sulawesi, ada Proyek smelter yang
dikembangkan ada di Konawe, Morowali (Pulau Sulawesi) hingga Weda Bay (Pulau
Maluku). Potensi penyerapan pekerja di smelter Morowali diklaim Airlangga
Hartarto mencapai 40.000 orang, sedangkan di Konawe hingga 11.000 pekerja,
Direktur Eksekutif Nasional (Eknas) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi),
Nur Hidayati menyebut, proyek baru yang akan digarap pada sisa pemerintahan
Jokowi dinilai tak sensitif dengan kepentingan rakyat.
Pembiayaan proyek justru menghambur uang untuk kegiatan di
luar penanganan pandemi dan dan tidak memedulikan wabah Corona.“Ini semua
proyek polusi. Kita bukannya justru menyembuhkan, memulihkan warga dari Corona,
menjaga keseimbangan ekologis. Ini justru semakin dirusak,” ujarnya.
Itu sedikit gambaran kalau ideologi “pembangunanisme” di
rezim sekarang ada.
Berbicara pembangunan infrastruktur yang meningkatkan
perekonomian sebagian kelompok saja dan mengabaikan keadilan sosial, sebenarnya
Ada satu spesies yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19—kita. Seperti
halnya krisis iklim dan keanekaragaman hayati, pandemi saat ini adalah
konsekuensi dari aktivitas manusia yang selalu memperjuangkan pertumbuhan
ekonomi dengan cara apa pun,” ungkap sekelompok peneliti yang tergabung dalam
The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiveristy and Ecosystem
Services (IPBES). Sudah banyak peneliti yang memperingatkan akan adanya
wabah-wabah baru di masa mendatang kalau kita masih saja melakukan kerusakan
alam dan wabah ini sangat cepat, sering terjadi dan bisa jadi lebih mematikan.
Hingga saat ini, penyakit yang di tularkan hewan ke manusia di estimasikan
mencapai 700.000 jiwa pertahunnya, akibat kerusakan ekosistem.
Salah satu peneliti pernah berujar “merajalelanya penebangan
hutan, ekspansi agrikultur yang tak terkendali, pertambangan dan pembangunan,
serta eksploitasi spesies liar telah menyebabkan penyebaran penyakit dari satwa
liar ke manusia jadi lebih mudah.” Marie Quinney juga salah satu dari spesialis
Nature Action Agenda “kita telah merusak ekosistem dan beresiko membuat virus
di hewan menemukan inang baru : kita.” dan para peneliti di IPBES mengimbau
stimulus penanganan COVID-19 mesti turut mempertimbangkan dampak lingku
ngan.
Negara-negara mesti memperketat regulasi terkait lingkungan, mengadopsi
pendekatan “One Health” yang menyadari keterkaitan antara kesehatan manusia dan
alam, dan serta memperbaiki sistem layanan di negara.
Jadi, sebenarnya pembangunan infrastruktur tidak terlalu
berdampak di masa pandemi ini di karena kan pemerintah lebih mementingkan
perekonomian negara dan mengabaikan penanganan virus corona di tambah kebijakan
new normal seakan kehidupan kita ini pernah normal saja. Jadi, untuk itu
berhenti menyalahkan para kelompok menengah ke bawah yang lalu lalang di jalan,
karena yang justru bertanggung jawab atas ini adalah para oligarki kapital dan
pemilik industri ekstraktif yang seenaknya menggerus alam indah kita di
indonesia.
(Syahrun)
Referensi :
1. Gairah Pembangunan Infrastruktur Jokowi yang Tak
Pedulikan Pandemi https://tirto.id/gairah-pembangunan-infrastruktur-jokowi-yang-tak-pedulikan-pandemi-fDFd
Pembangunan Untuk Siapa?
Reviewed by HMS PNUP
on
06.14
Rating:
If might have} any queries regarding real money deposits at 888 Casino NJ, you'll be able to|you presumably can} simply contact us for a speedy response. Before accepting an offer, take time to figure out|to determine} what type of participant you are be}. If you favor making small wagers, it's probably a good suggestion to deposit a smaller amount, that you just can|so as to|to have the ability to} reasonably fulfil wagering 온라인카지노 requirements. Even high rollers should thoughts that|remember that|understand that} most wagers made with bonus funds are capped at around 5 pounds/dollars. Low wagering bonuses are deals wherein the participant has a comparatively low variety of wagering requirements to satisfy {in order to|so as to|to have the ability to} withdraw their further funds. No wagering bonuses actually exist online, however they are among the rarest of the offers out there.
BalasHapus